Validasi pada Metode Pengujian Non Standar Rapid Test Kit di Laboratorium 

Berdasarkan Sistem Manajemen Mutu ISO/IEC 17025 klausul 7.2 “Laboratorium harus melakukan validasi metode untuk metode non-standar, metode yang dikembangkan sendiri, dan modifikasi metode standar untuk memastikan bahwa metode tersebut cocok untuk penggunaan yang dimaksud.” Validasi metode pengujian diperlukan untuk membuktikan bahwa prosedur yang digunakan mampu menghasilkan data yang presisi dan terpercaya. Pengujian rapid test belakangan ini semakin banyak dipertimbangkan sebagai alternatif pengujian khususnya bagi pengujian onsite (lapangan). 

Artikel ini akan membahas bagaimana proses validasi metode non standar rapid test kit di laboratorium.

Pengujian Rapid Test Kit 

Langkah-Langkah Pengujian dengan Rapid Test Kit

Prosedur uji dengan rapid test kit biasanya menggunakan alat yang bisa uji cepat, vial dan reagen kit. Prosedur pengujian rapid test kit salah satu contohnya yaitu uji nitrit menggunakan rapid test kit umumnya meliputi :

  1. Menyiapkan 10 mL sampel ke dalam vial pengujian.
  2. Menempatkan vial di alat untuk proses kalibrasi nol.
  3. Setelah itu, tambahkan larutan reagen dan homogenkan.
  4. Kembalikan vial ke alat, aktifkan tombol “Test”, dan tunggu sekitar 10 menit.
  5. Baca dan dokumentasikan hasil kadar nitrit yang muncul.

 

Keunggulan Pengujian Rapid Test Kit 

Rapid test kit untuk pengukuran memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan metode analisis konvensional. 

  • Kit tidak hanya ekonomis, tetapi juga dirancang agar mudah digunakan tanpa perlu pengalaman teknis mendalam. 
  • Seluruh reagen sudah tersedia dalam satu paket sehingga lebih praktis untuk pengujian onsite 
  • Minimasi limbah dan reagen sehingga menghasilkan proses uji yang lebih ramah lingkungan dan efisien. 
  • Hasil pengujian dapat diperoleh dalam hitungan menit dan dapat ditelusuri hingga sistem satuan internasional, menjadikannya solusi praktis untuk laboratorium dengan beban kerja tinggi.

Perencanaan Validasi Metode

Langkah awal sebelum memvalidasi metode adalah mempertimbangkan berbagai faktor, seperti keterbatasan sumber daya laboratorium, kebutuhan pelanggan, dan aplikasi rutin metode tersebut. Persiapan teknis mencakup:

  • Peningkatan kapabilitas personel melalui uji kompetensi,

  • Pemilihan metode yang sesuai dengan standar nasional atau internasional,

  • Kalibrasi peralatan yang digunakan,

  • Penggunaan reagen, CRM, dan air bebas kontaminan sesuai spesifikasi.

Parameter Validasi Metode

Penilaian Bias, Ketepatan, dan Presisi

Evaluasi bias dilakukan dengan membandingkan hasil uji terhadap nilai referensi dari CRM. Presisi diukur dari keberulangan hasil menggunakan %RSD dan %RPD. 

Batas keberteriamaan metode yang digunakan untuk validasi 

  • %RPD atau %RSD maksimal 10%
  • Persentase recovery antara 85% hingga 115%
  • Atau apabila metode tidak memberikan batas keberterimaan maka bisa mengacu pada batas keberterimaan pada AOAC di bawah ini

 

Penentuan Batas Deteksi dan Batas Kuantifikasi

Menentukan batas deteksi suatu metode merupakan indikator sejauh mana laboratorium mampu dan terbatas dalam mengaplikasikan metode tersebut untuk mendeteksi analit pada konsentrasi yang sangat rendah.

Tujuan dari penetapan batas deteksi adalah agar hasil uji tidak hanya dilaporkan sebagai “tidak terdeteksi” (ND) tanpa memberikan nilai referensi, karena hal ini akan membuat informasi menjadi tidak bermakna dan sulit ditafsirkan tanpa angka deteksi minimum metode.

Validasi juga mencakup pengukuran sensitivitas metode untuk mendeteksi konsentrasi analit dalam konsentrasi rendah, dengan parameter berikut:

  • IDL: Kadar analit yang menghasilkan sinyal 3–5 kali signal to noise (S/N) yang diperoleh dengan pengujian berulang larutan blanko. 
  • LLD/LoD : Konsentrasi terkecil dari analit yang mampu menghasilkan signal yang terdeteksi dan lebih besar dari blanko.
  • MDL: Nilai analit dengan peluang deteksi 99% di atas sinyal blanko, dengan minimal tujuh pengulangan selama tiga hari. Penentuan MDL dilakukan 7 kali ulangan pada minimal 3 hari yang berbeda.

  • LoQ : Konsentrasi terendah yang masih dapat diukur secara kuantitatif dan menghasilkan signal lebih besar dari blanko dan digunakan sebagai limit yang digunakan rutin di laboratorium. Dengan perhitungan = 10 x SD 

*SD : Standar deviiasi

Repeatabilitas dan Reprodusibilitas

Dua aspek penting lain yang dievaluasi adalah diantaranya adalah Repeatabilitas dan Reprodusibilitas. 

Apa itu Repeatabilitas dan Reprodusibiltas?

  • Repeatabilitas ialah pengujian yang dilakukan di laboratorium oleh analis yang serupa dan di lakukan di waktu yang sama.

  • Reprodusibilitas ialah pengujian yang dilakukan oleh personel berbeda atau di waktu berbeda dalam satu laboratorium. Penilaian dilakukan pada konsentrasi rendah (0,04 mg/L), sedang (0,39 mg/L), dan tinggi (0,8 mg/L) untuk memastikan stabilitas hasil dalam berbagai kondisi.

 

Kesimpulan

Melalui validasi metode, laboratorium dapat memastikan bahwa penggunaan metode non standar rapid test kit dalam analisis dapat dilakukan meski menggunakan metode non standar. Prosedur validasi mencakup berbagai parameter yang diuji seperti presisi, bias, sensitivitas, hingga ketepatan dalam pengulangan. Sehingga hasil validasi dapat memastikan hasil uji metode non standar rapid test kit dapat menghasilkan pengujian yang akurat dan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

Read Other Insight

  • Instrumen Ion Kromatografi: Solusi Cerdas untuk Analisis Ion Anorganik

    Instrumen ion kromatografi merupakan perangkat analitik penting dalam laboratorium modern untuk mengukur ion-ion anorganik secara presisi. Mulai dari laboratorium lingkungan, farmasi, geologi, hingga industri makanan dan minuman, instrumen ini telah menjadi pilihan utama untuk pemisahan dan kuantifikasi ion bermuatan seperti nitrat, sulfat, natrium, kalium, dan lainnya. Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu instrumen…

  • 3 Prosedur Pengendalian Mutu Internal

        Pendahuluan Mengenai pengendalian mutu, kalibrasi, dan verifikasi metode pengukuran pH, proses ini sangat penting untuk memastikan hasil pengukuran yang akurat dan sesuai standar. Dalam berbagai industri, terutama laboratorium lingkungan, pengukuran pH digunakan untuk memantau kualitas air, memastikan kepatuhan terhadap regulasi, dan memahami dinamika kimia dalam larutan. Menjaga keakuratan pengukuran pH memerlukan penerapan pengendalian…

  • Tanggap Darurat Bahan Kimia (K3 Laboratorium)

      Sobat Chemist, apakah kalian pernah mengalami atau menyaksikan insiden tumpahan atau kebocoran bahan kimia di laboratorium? Jika iya, kalian pasti tahu betapa pentingnya kesiapsiagaan dalam menangani situasi darurat ini. Dalam konteks K3 Laboratorium, keselamatan kerja menjadi prioritas utama untuk menghindari risiko yang dapat membahayakan individu maupun lingkungan sekitar. Dalam artikel ini, kita akan membahas…

  • Sampling Isokinetik untuk Pengambilan Sampel Emisi Partikulat

      Mengapa Sampling Isokinetik Penting dalam Pengambilan Sampel Emisi Partikulat? Sobat Chemist, apakah kalian tahu bahwa pengambilan sampel emisi partikulat di industri harus dilakukan dengan metode yang tepat agar hasilnya akurat? Salah satu metode yang banyak digunakan adalah metode isokinetik sampling. Metode ini penting untuk memastikan bahwa sampel yang diambil dari cerobong industri mencerminkan kondisi…

  • Temu Karya Uji Profisiensi LEMIGAS Tingkatkan Validitas Pengujian BBM, Crude Oil, Gas Bumi, Pelumas, dan Kalibrasi

    Sesuai dengan mandat ISO 17025, setiap laboratorium yang terakreditasi ISO/IEC 17025 perlu melakukan jaminan mutu hasil pengujian untuk memantau dan mengevaluasi kinerja laboratorium dalam menghasilkan data yang valid dan akurat. Salah satu jaranya ialah dengan melakukan uji prefisiensi. Uji profisiensi merupakan suatu program yang sangat penting bagi laboratorium uji dan kalibrasi yang telah tersertifikasi ISO/IEC…